Sejarah singkat Burdah al-Madih al-Mubarokah

Syair burdah diciptakan oleh Al-Bushiri (610-695H/ 1213-1296 M). Nama lengkapnya, Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri. Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan latar belakang penciptaan karya monumentalnya. Ketika al-Bushiri mendapat serangan jantung, sehingga separuh tubuhnya lumpuh, beliau berdoa tak henti-hentinya sembari mencucurkan air mata, bahkan sampai air matanya bercampur darah, mengharapkan kesembuhan dari Alloh SWT. Kemudian beliau membacakan beberapa sajak pujian. Suatu saat beliau tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, beliau berjumpa Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri . Kemudian beliau terbangun dan mampu berdiri seperti sediakala.
Awalnya, al-Bushiri memberi nama karyanya ini dengan nama kasidah Mimiyah, karena bait-bait sajaknya diakhiri dengan huruf Mim, selanjutnya kasidah ini dikenal dengan kasidah Baraâh, sebab menjadi cikal bakal sembuhnya sang pujangga dari kelumpuhannya. Hanya saja nama kasidah Burdah lebih populer di kalangan umat Islam dibanding sebutan yang lain.
Qasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah al-Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Quran, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.